13/01/26

Merajut Perdamaian Papua Lewat Nilai Pancasila

 


Papua - Komjen Pol (Purn.) Paulus Waterpauw, putra asli Papua yang saat ini menempuh pendidikan doktoral di Universitas Indonesia, menawarkan pendekatan alternatif untuk merespons polarisasi di media sosial melalui disertasinya berjudul “Model Resolusi Konflik Berbasis Nilai Pancasila di Tengah Polarisasi Media Sosial.”


Dalam penelitiannya, Waterpauw mengkaji dinamika generasi muda Papua dan hubungan mereka dengan nilai-nilai Pancasila di ruang digital. Melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah (FGD) yang melibatkan ratusan peserta di Jayapura, ia menemukan bahwa generasi muda Papua tidak menolak Pancasila sebagai ideologi negara. Namun, mereka mempertanyakan bagaimana nilai-nilai tersebut benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sosial, terutama menyangkut keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.


Penelitian ini juga mengungkap masih kuatnya memoria passionis atau ingatan kolektif atas luka sejarah yang memengaruhi ekspresi generasi muda Papua di media sosial. Meski begitu, muncul pula narasi alternatif yang menonjolkan budaya, solidaritas, serta harapan melalui konten digital dan kampanye damai. Hal ini menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan dan persatuan masih hidup dan tumbuh.


Berdasarkan temuan tersebut, Waterpauw merumuskan model resolusi konflik berbasis nilai Pancasila yang diadaptasi untuk konteks media sosial. Model ini mencakup pemetaan polarisasi digital, penguatan literasi digital berbasis Pancasila, dialog lintas kelompok, pengembangan narasi positif, serta kolaborasi partisipatif dengan masyarakat lokal.


Ia juga menyoroti peran masing-masing platform media sosial sebagai ruang strategis perdamaian: Facebook sebagai forum dialog komunitas, TikTok sebagai media ekspresi kreatif, Instagram sebagai ruang afirmasi identitas budaya, dan X sebagai arena diskursus publik.


Waterpauw menegaskan bahwa Pancasila harus dipahami sebagai etika hidup yang dinamis di ruang digital. Resolusi konflik, menurutnya, tidak hanya berfokus pada meredam perdebatan, tetapi juga membangun kembali kepercayaan sosial dan kesadaran kolektif sebagai satu bangsa.


“Papua bukan semata tentang konflik, tetapi tentang harapan,” tegasnya dalam penutup penelitian. Ia memandang Pancasila sebagai jalan untuk merajut kembali empati dan nilai kebangsaan, bahkan di tengah kerasnya dinamika ruang digital.

Berselancar di samudera dunia maya