09/02/26

Takeda Konsisten Dukung Upaya Menuju Nol Kematian Akibat Dengue 2030

 


Jakarta, 4 Februari 2026 – Dengue masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan tren peningkatan kasus dalam lima dekade terakhir, dengan puncak pada 2024 mencapai 257.271 kasus dan 1.461 kematian. Pada 2025, tercatat 161.752 kasus dengan 673 kematian di hampir seluruh wilayah Indonesia. Memasuki musim hujan, risiko penularan meningkat akibat bertambahnya tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, menegaskan bahwa dengue bukan sekadar isu musiman, melainkan ancaman kesehatan yang memerlukan pencegahan berkelanjutan.


Merespons kondisi tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menggelar edukasi media bertajuk “Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa”, dengan dukungan PT Takeda Innovative Medicines, sekaligus memperingati Hari Penyakit Tropis Terabaikan Sedunia (World Neglected Tropical Disease Day) yang diperingati setiap 30 Januari.


Ketua Umum PP PAPDI, Dr. dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICA, MARS, SH, menegaskan, “Dengue bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga tantangan kesehatan masyarakat yang berdampak luas. Penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun, meski pada musim hujan risiko penularannya meningkat. Karena itu, pencegahan harus menjadi fokus utama, bukan hanya ketika kasus sudah terjadi.” Pernyataan tersebut diperkuat oleh dr. Prima Yosephine, M.K.M, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, yang menyatakan, “Pencegahan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Peran aktif masyarakat menjadi kunci melalui penerapan 3M Plus secara disiplin, peningkatan kewaspadaan gejala, serta penguatan upaya pemerintah menuju tujuan ‘Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030’. terangnya dalam kegiatan edukasi media.


Dari sisi klinis, Dr. dr. Adityo Susilo, SpPD, K-P.T.I, FINASIM, mengingatkan bahwa dengue dapat berkembang cepat menjadi kondisi berbahaya, seseorang dapat terinfeksi lebih dari satu kali, dan hingga kini belum ada obat yang secara spesifik menyembuhkan dengue sehingga pencegahan tetap menjadi langkah paling penting. Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PP PAPDI, menambahkan bahwa kelompok dewasa juga memiliki risiko signifikan, terutama mereka dengan mobilitas tinggi dan komorbiditas, serta vaksinasi dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pencegahan menyeluruh.


Dari perspektif anak, Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp. TKPS, Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, menegaskan bahwa demam berdarah dengue tidak boleh dianggap sebagai demam biasa karena terdapat fase kritis yang dapat berakibat fatal, sehingga orang tua perlu lebih waspada, memahami tanda bahaya, dan segera mencari pertolongan medis, sejalan dengan penerapan 3M Plus dan konsultasi imunisasi dengue sesuai rekomendasi.


Dukungan dari berbagai sektor disampaikan oleh Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, yang menyebut beban dengue di Indonesia sangat besar, dengan lebih dari satu juta kasus rawat inap pada 2024 dan biaya hampir tiga triliun rupiah. “Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, PAPDI berharap kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam melindungi diri dan lingkungan dari dengue dapat terus diperkuat secara berkelanjutan.

Berselancar di samudera dunia maya